BAB II
PEMBAHASAN
A. Tanah Dan Lahan
1. Tanah
a. Karakteristik Tanah
Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Dari segi klimatologi, tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan menekan erosi, meskipun tanah sendiri juga dapat tererosi. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah.
Tubuh tanah (solum) tidak lain adalah batuan yang melapuk dan mengalami proses pembentukan lanjutan. Usia tanah yang ditemukan saat ini tidak ada yang lebih tua daripada periode Tersier dan kebanyakan terbentuk dari masa Pleistosen.
Tubuh tanah terbentuk dari campuran bahan organik dan mineral. Tanah non-organik atau tanah mineral terbentuk dari batuan sehingga ia mengandung mineral. Sebaliknya, tanah organik (organosol/humosol) terbentuk dari pemadatan terhadap bahan organik yang terdegradasi.
Tanah organik berwarna hitam dan merupakan pembentuk utama lahan gambut dan kelak dapat menjadi batu bara. Tanah organik cenderung memiliki keasaman tinggi karena mengandung beberapa asam organik (substansi humik) hasil dekomposisi berbagai bahan organik. Kelompok tanah ini biasanya miskin mineral, pasokan mineral berasal dari aliran air atau hasil dekomposisi jaringan makhluk hidup. Tanah organik dapat ditanami karena memiliki sifat fisik gembur (sarang) sehingga mampu menyimpan cukup air namun karena memiliki keasaman tinggi sebagian besar tanaman pangan akan memberikan hasil terbatas dan di bawah capaian optimum.
Tanah non-organik didominasi oleh mineral. Mineral ini membentuk partikel pembentuk tanah. Tekstur tanah demikian ditentukan oleh komposisi tiga partikel pembentuk tanah: pasir, lanau (debu), dan lempung. Tanah pasiran didominasi oleh pasir, tanah lempungan didominasi oleh lempung. Tanah dengan komposisi pasir, lanau, dan lempung yang seimbang dikenal sebagai geluh (loam).
Struktur tanah merupakan karakteristik fisik tanah yang terbentuk dari komposisi antara agregat (butir) tanah dan ruang antar agregat. Tanah tersusun dari tiga fasa: fasa padatan, fasa cair, dan fasa gas. Fasa cair dan gas mengisi ruang antara gregat. Struktur tanah tergantung dari imbangan ketiga faktor penyusun ini. Ruang antaragregat disebut sebagai porus (jamak pori). Struktur tanah baik bagi perakaran apabila pori berukuran besar (makropori) terisi udara dan pori berukuran kecil (mikropori) terisi air. Tanah yang gembur (sarang) memiliki agregat yang cukup besar dengan makropori dan mikropori yang seimbang. Tanah menjadi semakin liat apabila berlebihan lempung sehingga kekurangan makropori.
b. Pembentukan tanah (pedogenesis)
Tanah berasal dari pelapukan batuan dengan bantuan organisme, membentuk tubuh unik yang menutupi batuan. Proses pembentukan tanah dikenal sebagai ''pedogenesis''. Proses yang unik ini membentuk tanah sebagai tubuh alam yang terdiri atas lapisan-lapisan atau disebut sebagai horizon tanah. Setiap horizon menceritakan mengenai asal dan proses-proses fisika, kimia, dan biologi yang telah dilalui tubuh tanah tersebut.
Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swiss yang bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa tanah terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami modifikasi/pelapukan akibat dinamika faktor iklim, organisme (termasuk manusia), dan relief permukaan bumi (topografi) seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkan dinamika kelima faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat dilakukan klasifikasi tanah.
c. Penampang Tegak Tanah
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah
Gambar 2.1 Profil tanah, menunjukkan lapisan-lapisan yang disebut horizon
Lapisan paling atas disebut sebagai horizon organik (horizon O). Mengandung detritus, sampah-sampah daun, dan materi lainnya yang terhampar di permukaan tanah. Lapisan ini berwarna gelap karena adanya pembusukan materi organik dari sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang telah mati, dan pembusukan ini memperkaya kandungan nutrient/zat hara tanah.
Di bawah lapisan horizon O, terdapat lapisan topsoil (horizon A). Mengandung campuran materi yang belum membusuk sempurna, organisme (seperti bakterti, jamur, cacing, dan hewan-hewan kecil lainnya), dan beberapa partikel mineral anorganik. Biasanya lapisan ini lebih gelap dan lebih longgar (membentuk pori-pori tanah) dibanding lapisan dibawahnya. Akar tumbuhan biasanya tumbuh sampai lapisan ini. Bersama lapisan horizon O, lapisan ini mengandung sebagian besar materi organik, yaitu antara 1% - 7% dari volume yang ada. Ruang pori-pori antara materi organik padat dengan partikel anorganik mengandung air dan udara yang juga memiliki peran penting bagi metabolisme tanah.
Horison B atau lapisan subsoil, yang terletak di bawah lapisan topsoil, biasanya berwarna terang, tebal, padat, dan kandungan materi organiknya sedikit. Lapisan subsoil ini disebut juga sebagai zona leaching, dimana pada lapisan ini tertumpuk campuran materi dan lapisan atasnya yang ikut terbawa arus air.
Lapisan paling bawah adalah horison C. lapisan ini merupakan lapisan transisi antara material induk dengan lapisan tanah (di atasnya). Materi anorganik dari pecahan material induk dapat ditemukan di sini. Lapisan ini tidak mudah mengala perubahan dibandingkan lapisan sebelah atasnya dan sedikit sekali organismenya.
d. Warna Tanah
Warna tanah merupakan ciri utama yang paling mudah diingat orang. Warna tanah sangat bervariasi, mulai dari hitam kelam, coklat, merah bata, jingga, kuning, hingga putih. Selain itu, tanah dapat memiliki lapisan-lapisan dengan perbedaan warna yang kontras sebagai akibat proses kimia (pengasaman) atau pencucian (leaching). Tanah berwarna hitam atau gelap seringkali menandakan kehadiran bahan organik yang tinggi, baik karena pelapukan vegetasi maupun proses pengendapan di rawa-rawa. Warna gelap juga dapat disebabkan oleh kehadiran mangan, belerang, dan nitrogen.
Warna tanah kemerahan atau kekuningan biasanya disebabkan kandungan besi teroksidasi yang tinggi, warna yang berbeda terjadi karena pengaruh kondisi proses kimia pembentukannya. Suasana aerobik/oksidatif menghasilkan warna yang seragam atau perubahan warna bertahap, sedangkan suasana anaerobik/reduktif membawa pada pola warna yang bertotol-totol atau warna yang terkonsentrasi.
Warna tanah adalah karakteristik tanah, yang berguna sebagai penunjuk kualitas tanah secara sepintas. Warna tanah tergantung pada induk dan hasil proses pembentukan tanah. Pada keadaan tertentu warna tanah ikut mempengaruhi temperatur tanah.
Variasi tanah sangat tergantung pada kadar organik tanah. Bila penentuan kadar organik tanah secara tepat sulit dilakukan, maka sering kadar organik tanah diperkirakan berdasarkan indeks warna tanah. Tanah yang kadar organiknya tinggi lebih gelap warnanya dibandingkan dengan tanah yang rendah kadar organiknya. Banyak juga faktor lain yang ikut menentukan warna tanah.
Warna tanah dapat berpengaruh terhadap kondisi dan sifat tanah melalui radiasi cahaya yang diserapnya. Tanah yang berwarna hitam atau gelap akan banyak menyerap panas dibandingkan yang berwarna muda. Oleh karena itu, tanah yang berwarna gelap atau hitam lebih cepat menyerap panas dan lebih panas dari tanah yang berwarna muda bila langsung terkena cahaya matahari. Cepat dan banyaknya panas yang diterima tanah tergantung pada warna tanah. Tanah yang berwarna gelap lebih cepat kering dibandingkan dengan tanah yang berwarna terang atau muda.
Warna tanah juga ikut berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban tanah karena kecepatan penyerapan panas dipengaruhi oleh warna tanah. Dengan demikian, warna tanah secara tidak langsung akan menentukan kehidupan organisme tanah.
2. Lahan
Sejak tahun 1970, istilah lahan mulai banyak digunakan. Menurut FAO, lahan diartikan sebagai tempat di permukaan bumi yang sifat-sifatnya layak disebut seimbang dan saling berkaitan satu sama lain, memiliki atribut mulai dari biosfer atmosfer, batuan induk, bentuk-bentuk lahan, tanah dan ekologinya, hidrologi, tumbuh-tumbuhan, hewan dan hasil dari aktivitas manusia pada masa lalu dan sekarang yang menegaskan bahwa variabel itu berpengaruh nyata pada penggunaan manusia saat ini dan akan datang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah lahan bararti tanah terbuka, tanah garapan. Lahan diartikan sebagai suatu tempat terbuka di permukaan bumi yang dimanfaatkan oleh manusia, misalnya untuk lahan pertanian, untuk membangun rumah, dan lain-lain.
Pemahaman tentang tipe-tipe tanah yang penting bagi pemanfaatan dan daya guna lahan. Tidak semua tipe tanah bisa dipakai untuk lahan pertanian, untuk membangun rumah, berdirinya pabrik, atau alas jalan. Setiap tanah memiliki karakteristiknya sendiri yang memberi pengaruh pada terbatasnya daya guna lahan di atas tanah itu. Sebelum pemanfaatan lahan di atas tanah, harus melakukan survey tanah terlebih dahulu.
Pendayagunaan tanah sebagai sumber daya tidak hanya sebatas tanah dalam batas yang sempit, tetapi lebih luas berupa lahan. Lahan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, tumbuhan, dan makhluk lainnya. Manusia selalu berusaha memiliki dan menguasai lahan, yang ikut menentukan status sosialnya. Kebutuhan hidup manusia yang beragam, penguasaan teknologi, kondisi sosial budaya, dan ekonomi masyarakat yang berbeda merupakan faktor yang menentukan dalam penggunaan lahan. Pengelolaan lahan merupakan upaya yang dilakukan manusia dalam pemanfaatan lahan sehingga produktivitas lahan tetap tinggi secara berkelanjutan (jangka panjang). Penggunaan sumber daya lahan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok manfaat dan peranan, yaitu (M. Ardi, dkk : 274) :
a. Lahan digunakan untuk tempat tinggal, berusaha, bercocok tanam, tambak ikan, dan lainnya;
b. Lahan sebagai kawasan hutan yang menopang kehidupan vegetasi satwa liar;
c. Lahan sebagai daerah pertambangan yang bermanfaat bagi manusia.
Besarnya manfaat dan pentingnya peran lahan menyebabkan sering terjadi konflik kepentingan dalam penggunaannya. Namun, bagaimana manusia dapat memanfaatkan dengan baik sumber daya tanah berupa lahan secara seimbang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.
3. Degradasi dan Kerusakan Lahan
Degradasi adalah penurunan mutu atau kemerosotan kedudukan (Daryanto, 1997). Dalam kaitannya dengan tanah, pengertian degradasi adalah penurunan atau kemerosotan mutu tanah akibat perilaku manusia atau aktivitas alam, sehingga kondisi tanah lebih buruk dibanding sebelumnya. Degradasi tanah dapat meliputi aspek fisik, kimiawi, dan biologi tanah (Chen, 1998). Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan degradasi adalah berkurang dan hilangnya nutrisi, dan erosi tanah (IBSRAM, 1994, dalam Chen, 1998).
Sebagai salah satu faktor penyebab degradasi, erosi tanah oleh air dan angin merupakan bentuk terpenting dari degradasi (Chen, 1998). Menurut Suripin (2001), erosi tanah merupakan suatu proses atau peristiwa hilangnya lapisan permukaan tanah atas, baik disebabkan oleh pergerakan air maupun angin. Limpasan permukaan sebagai faktor pemicu utama erosi, pada akhirnya berakibat pada terjadinya degradasi lahan.
Degradasi tanah dapat berdampak pada menurunnya kualitas/mutu tanah. Kualitas tanah tidak lain adalah kapasitas tanah sesuai fungsinya (Karlen et al, 1996). Apabila kapasitas fungsi tanah sudah mengalami penurunan dan tidak dapat berfungsi seperti sediakala, maka tanah tersebut telah mengalami degradasi.
Kualitas tanah adalah gabungan dari sifat fisik, kimia, dan biologi yang menentukan pertumbuhan tanaman, mengatur dan membagi aliran air pada lingkungan, dan sebagai filter lingkungan yang efektif (Larson dan Pierce, 1996). Sedangkan menurut Utomo (2000), Kualitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah, di dalam batas-batas lingkungannya, untuk berfungsi dalam kapasitasnya menghasilkan produk biologi secara berkesinambungan, mengatur tata air dan aliran larutan, memelihara dan memperbaiki kualitas lingkungan untuk kesehatan dan kenyamanan hidup manusia dan hewan.
Gambar 2.2 Tanah kering menunjukkan kualitas tanah yang menurun
Salah satu bentuk degradasi tanah dapat berupa perubahan sifat biofisik tanah. Perubahan sifat biofisik tanah. terjadi karena perubahan penggunaan lahan. Hal ini disebabkan setiap perubahan penggunaan lahan selalu diikuti dengan perubahan penutup lahan (vegetasi). Oleh karena setiap jenis vegetasi memiliki sistem perakaran yang berbeda (Winanti, 1996), maka ketika vegetasi penutup lahan berubah maka sifat biofisik tanah juga akan berubah. Terkait dengan perubahan sifat biofisik tanah ini Liedloff (2003) menyatakan bahwa perubahan penutupan lahan dapat mempengaruhi aktivitas makro-invertebrata dalam tanah. Perubahan penggunaan lahan dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan tanah permukaan berupa penurunan bahan organik, jumlah ruang pori, dan ketebalan.
Perubahan penggunaan lahan cenderung menurunkan jumlah resapan air hujan di kota. Menurunnya resapan air dikarenakan dikonversi lahan terbuka bervegetasi menjadi lahan terbangun dapat meminimalkan resapan air hujan ke dalam tanah. Hal ini terjadi karena tanaman secara efektif dapat mengabsobsi air hujan untuk mempertahankan laju infiltrasi; bahkan vegetasi dapat meningkatkan laju infiltrasi (Schwab, 1997).
Proses erosi meliputi tiga proses yang berurutan yaitu pengelupasan (detachment), pengangkutan (transportation), dan pengendapan (sedimentation) (Asdak, 2002). Dari ketiga proses tersebut, proses pengelupasan merupakan proses awal untuk berlangsungnya erosi. Proses yang mendorong terjadinya pengelupasan tanah adalah tetesan air hujan yang menimbulkan erosi percik dan limpasan permukaan yang berperan mengangkut material hasil erosi percik ke tempat yang lebih rendah atau ke dalam parit-parit untuk selanjutnya dibawa ke sungai.
Limpasan permukaan terjadi jika intensitas hujan atau lama hujan melebihi kapasitas infiltrasi. Besaran dan kekuatan limpasan permukaan ditentukan oleh intensitas hujan dan kemiringan lereng. Intensitas hujan menentukan jumlah volume air persatuan waktu yang akan mengalir di permukaan tanah, sedangkan kemiringan lereng menentukan kecepatan aliran air dalam menuruni lereng. Oleh karena permukaan tanah tidak umumnya tidak benar-benar rata, maka limpasan permukaan terjadi juga tidak merata dan arah aliran yang tidak beraturan, sehingga proses erosi dan tingkat pengikisan tanah pada suatu lahan juga tidak merata.
4. Faktor-faktor yang Menyebabkan Kerusakan Tanah dan Lahan
Menurut Meneg KLH (1991) beberapa aktivitas manusia yang dapat menurunkan kualitas tanah adalah sebagai berikut :
a. Usaha tani tanaman semusim terutama di daerah miring, yang tidak dibarengi dengan usaha konservasi tanah dan air akan berdampak pada terjadinya erosi dan pengangkutan bahan organik, sehingga mengakibatkan terjadinya lahan kritis,
b. Perladangan berpindah, yang mengubah hutan menjadi lahan pertanian, jika lahan tersebut berubah menjadi alang-alang akan menurunkan kualitas lingkungan,
c. Penggembalaan berlebihan, yang melampaui kapasitas lahannya mengakibatkan rumput tidak sempat tumbuh sehingga menimbulkan tanah gundul (penggurunan),
d. Penempatan permukiman transmigrasi, yang tidak memiliki kesesuaian lahan akan berkembang menjadi lingkungan yang berkualitas buruk, tidak produktif, dan menyengsarakan transmigran,
e. Pembukaan lahan secara serampangan, dapat menyebabkan pemadatan tanah sehingga menurunkan infiltrasi, meningkatkan limpasan, dan memicu terjadinya erosi,
f. Cara pengelolaan bahan organik, pengangkutan dan pembakaran limbah pertanian dapat menurunkan kadar bahan organik. Hal ini dapat menyebabkan memburuknya sifat fisik dan erodibilitas tanah,
g. Perubahan tata guna lahan, dapat merubah kualitas tanah dan lingkungan, misalnya peningkatan erosi dan menurunnya kesuburan/produktivitas tanah, dan
h. Penambangan bahan galian yang dilakukan secara besar-besaran yang berbenturan dengan kepentingan permukiman, pertanian, dan kehutanan dapat menimbulkan masalah lingkungan.
Gambar 2.3 Penebangan Hutan dan Pembukaan Lahan Pertanian Merupakan Penyebab Kerusakan Lahan
B. Hutan Hujan Tropis (Tropical rain forest atau mountain rain forest)
Hutan Hujan Tropis (Tropical rain forest atau mountain rain forest) merupakan ekosistem yang klimaks klimatik. Tetumbuhan yang ada dalam hutan ini tidak pernah menggugurkan daun, kondisinya sangat bervariasi seperti ada yang sedang berbunga, ada yang sedang berbuah, ada yang dalam perkecambahan, atau berada dalam tingkatan kehidupan sesuai dengan sifat atau kelakuan masing-masing jenis tetumbuhan tersebut. Hutan hujan tropis mempunyai vegetasi yang khas daerah tropis basah dan menutupi semua permukaan daratan yang memiliki iklim panas, curah hujan cukup banyak serta terbagi merata.
Pohon-pohon dari komunitas hutan hujan yang beranekaragaman ini, tingginya rata-rata 46-55 m adakalanya secara individu dapat mencapai 92 m, dengan bentuk pohon pada umumnya ramping-ramping. Tinggi pohon tidak sama, seringkali terdapat 3 lapis pohon-pohon, tetapi kadang-kadang hanya 2 lapis. Tetumbuhan bawah pada hutan hujan terdiri dari semak, terna, dan sejumlah anakan serta kecambah-kecambah dari pohon. Disamping itu hutan hujan memiliki tanaman memanjat dari pelbagai bentuk dan ukuran, serta epifit yang tumbuh pada batang dan daun. Hutan hujan tropis sangat berstratifikasi, secara garis besar membentuk tiga lapisan yaitu :
1. Pohon-pohon yang sangat menjulang tinggi.
2. Lapisan tajuk yang membentuk lapisan permadani hijau yang berkesinambungan dengan ketinggian 80 – 100 kaki.
3. Lapisan tumbuhan bawah.
Dalam masyarakat hutan hujan dikenal adanya kelas-kelas atau golongan-golongan ekologis yang disebut dengan synusia. Synusia merupakan golongan tumbuh-tumbuhan yang mempunyai life-form serupa, menduduki niche yang sama dan memainkan peranan yang serupa dalam komunitasnya. Atau bisa disebut bahwa synusia adalah sekelompok tumbuhan yang mempunyai tuntutan yang serupa pada habitat yang serupa. Hutan hujan tropis mempunyai synusia sebagai berikut :
I. Tumbuhan-tumbuhan autotrop (berklorofil) :
a. Tumbuh-tumbuhan yang secara mekanisme berdiri sendiri, disusun dalam beberapa srata yaitu :
1). Pepohonan, dan perdu
2). Terna.
Pembagian strata ada lima yaitu stratum A terdiri dari pepohonan dengan ketinggian sekitar 30-42 m. stratum B terdiri dari pepohonan dengan ketinggian sekitar 20-27 m. stratum C terdiri dari pepohonan dengan ketinggian sekitar 8-14 m. startum D terutama terdiri dari jenis berkayu, namun lebih banyak tergolong terna dan sering disebut semak. Stratum E adalah stratum tanah yang terdiri dari terna-terna atau kecambah pepohonan.
b. Tumbuh-tumbuhan yang tidak dapat berdiri sendiri yaitu :
1). Tumbuh-tumbuhan memanjat.
2). Tumbuhan pencekik (strangler)
3). Epifit dan semi parasit.
II. Tumbuh-tumbuhan heterotrof (tanpa berklorofil) yaitu :
a. Saprofit
b. Parasit.
Hutan hujan tropis berdasarkan habitatnya dapat dibagi menjadi beberapa zone, yaitu :
1. Hutan daratan rendah
2. Hutan daratan rendah lainnya
3. Hutan pegunungan bagian bawah (Submontane forest)
4. Hutan pegunungan bagian atas (Montane forest)
5. Hutan subalpine dan hutan alpine.
1. Hutan Dataran Rendah
Sumber : http://gunggungsenoaji.wordpress.com/tag/enggano/
Gambar 2.4 Hutan dataran rendah di Pulau Enggano
Hutan ini mempunyai tajuk yang tinggi berlapis-lapis dan terdapat banyak strata didalamnya, dan merupakan suatu ekosisten tipe klimaks vegetasi yang mempunyai keanekaragaman (diversitas) sangat tinggi, kompleks, dan paling menarik. Herbivor yang terdapat di hutan dataran rendah terbatas pada beberapa jenis tumbuhan. Jenis horbivor ini telah berkembang sejalan dengan perkembangan dari jenis tumbuhan tersebut dan mampu mengatasi cara-cara bagaimanapun dari perlindungan fisik dan kimia yang dimiliki tumbuhan. Dampak yang diakibatkan herbivor pada jenis pohon yang berlimpah atau yang menguasai suatu daerah mengurangi daya bersaing jenis itu, sehingga jenis yang kurang dipengaruhi herbivor dapat tumbuh terus.
Topografi kawasan hutan Pulau Enggano bervariasi mulai dari datar sampai curam dengan ketinggian tempat 0 – 220 meter dari permukaan laut. Jenis-jenis yang dominan di hutan dataran rendah adalah suku Dipterocarpaceae, Sapindaceae, dan Myrtaceae.
2. Hutan Dataran Rendah Lainnya
a. Hutan Kerangas
Sumber : http://acehpedia.org/Tipelogi_Hutan_Indonesia
Gambar 2.5 Hutan Kerangas
Hutan ini dijumpai antara lain di Pulau Bangka, Pulau Belitung, Kepulauan Lingga, Natuna dan Sumbawa. Istilah kerangas dari bahasa Iban (Daya) yang berarti lahan yang sudah dihutankan dan tidak subur lagi. Kondisi tanah ekosistem kerangas ini, biasanya terdiri dari silika dengan struktur yang kasar, adakalanya pH bersifat asam dan mudah mengering. Umumnya tumbuh diatas tanah podsol, tanah pasir dan keras yang sarang, miskin hara dan pH rendah. Ciri umum ekosistem ini antara lain adalah : 1) Iklim selalu basah; 2) Tanah pasir, podsol; dan 3) Tanah rendah rata.
b. Vegetasi Padang
Padang merupakan ekosistem yang sangat miskin zat haranya, dan dianggap sebagai hutan kerangas yang menurun mutunya akibat kebakaran. Vegetasi padang berupa semak belukar dengan ketinggian pohon biasanya sekitar 5 m walaupun sekali-sekali dijumpai ada yang sampai 25 m ketinggiannya atau penebangan.
c. Hutan Bulian
Ekosistem ini mempunyai jenis yang didominasi oleh tumbuhan bulian (Eusideroxylon zwageri) dan mempunyai keanekaraganan yang sangat rendah. Spesifikasi dari ekosistem ini ialah dapat berada dalam keadaan keseimbangan tanpa gangguan hama
Sumber : http://baliwww.com/jambi/batanghari.html
Gambar 2.6 Hutan Bulian
Cagar alam Hutan Bulian adalah pusat konservasi kayu Bulian (Evisideroxylon zwageri). Di hutan ini kita bisa membuat penelitian pada tanaman unik atau hanya memiliki jalan untuk keindahan vegetasi hutan primier. Hutan ini mencakup sekitar 7480 di alun-alun. Dalam rangka untuk mencapai hutan ini, kita harus melakukan perjalanan darat dari kota Jambi Muara Bulian melalui kota.
d. Hutan Batu Kapur
Sumber : http://yoviavianto.blogspot.com/2010/07/hutan-batu-madagascar.html
Gambar 2.7 Hutan Batu Kapur
Ekosistem batu kapur mempunyai pemandangan yang spesifik dan disebut dengan karst. Habitat batu kapur ini dapat berbentuk bukit-bukit, setengah bola dan berlekuk-lekuk bukit-bukit, setengah bola dan berlekuk-lekuk. Hutan batu kapur yang terletak di kawasan barat Madagascar ini tebentuk oleh alam sehingga menciptakan pemandangan yang indah. hutan batu ini menjadi tempat berlindung bagi hewan unik. Contohnya, monyet sifaka dan capung merah. Sinar matahari menguasai di ketinggian puncak-puncak kapur ini, dimana curah hujan berlangsung dengan cepat.
e. Gua
Sumber : http://yoviavianto.blogspot.com/2010/07/hutan-batu-madagascar.html
Gambar 2.8 Gua yang Terdapat Di Hutan Batu Kapur
Gua biasanya terbentuk di daerah-daerah batu kapur. Terjadi karena air hujan yang mengandung sedikit asam, melarutkan kapur, mengalir melalui celah-celah di bawah tanah dan mengeruk dinding celah yang makin lama makin besar sehingga berbentuk terowongan di dalam tanah yang disebut dengan gua. Di dalam gua sering mengalir sungai kecil.
Gua sebagai habitat, kurang mendapat sinar matahari, sehingga tidak dapat ditumbuhi oleh tumbuhan hijau. Biasanya dijumpai lumut kerak atau jenis mikroorganisme seperti bakteri atau ganggang biru-hijau. Hewan yang menghuni di gua makanannya tergantung dari luar.
3. Submontane Forest
Sumber : http://mylovelydarulamin.blogspot.com/2011/02/taman-nasional-kerinci-seblat-tnks.html
Gambar 2.9 Hutan Sub-Montane yang Terletak Di Pulau Sumatera.
Submontane forest atau hutan pegunungan bagian bawah merupakan ekosistem yang terdapat pada ketinggian 600 m- 1.400 m di atas permukaan laut. Fisiognominya menyerupai hutan hujan hanya pohon-pohonnya yang tumbuh lebih kecil. Begitu pula komposisinya agak berbeda. Pada ekosistem ini biasanya kaya dengan jenis Orchidaceae atau Pteridophyta. Disamping itu, pada umumnya dihuni oleh berbagai jenis tetumbuhan antara lain dari family: Annonaceae, Durseraceae, Bambusaceae,Dipterocarpaceae, Leguminoceae, Meliaceae, Sapindaceae, Apotaceae.
4. Montane Forest
Montane Forest atau hutan pegunungan bagian atas merupakan ekosistem yang terdapat pada ketinggian 1400-3000 m. fisiognomi tetumbuhannya tergantung kepada ketinggian dan topografi habitatnya. Pada habitat yang berbatu-batu ditumbuhi vegetasi berbentuk semak-semak rendah, atau pohon-pohon kecil, kerdil atau bercabang rendah.
Sumber : http://4.bp.blogspot.com//_xU5yZgPKTVW/jpg.
Gambar 2.10 Hutan Montane
Disamping itu, dapat dijumpai jenis pohon conifer atau jenis vegetai berbunga. Beberapa jenis vegetasi yang dimaksud antara lain : Araucaria, Orchidaceae, Eugenia, Schifflora, Casuarina nodiflora.
5. Hutan Sub Alpin dan Alpin
Sumber : http://mylovelydarulamin.blogspot.com/2011/02/taman-nasional-kerinci-seblat-tnks.html
Gambar 2.11 Hutan Sub Alpin dan Alpin yang Terletak Di Pulau Sumatera
Ekosistem sub alpine ditandai oleh jenis hutan pegunungan yang lebih kerdil. Biasanya banyak dijumpai jenis endemic. Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena penyinaran ultra violet yang kuat, menyebabkan terjadinya mutasi dan spesifikasi yang dipercepat. Jenis vegetasinya antara lain : Agrotis, Festuca, Graminae, Juncus dari Juncaceae, Carek, Scirous, Cyperus, serta tumbuh-tumbuhan kecil yang berwarna-warni.
C. Agroekosistem (Ekosistem Pertanian)
Meskipun berkaitan erat, pengertian tentang agroekosistem berbeda dengan ekosistem. Agroekosistem tidak hanya mencakup unsur-unsur alami (iklim, topografi, altitude, fauna, flora, jenis tanah, dsb.) tetapi juga unsur-unsur buatan (persawahan, lahan kering, dan pesisir).
Manusia telah mengubah ekosistem alam secara luas sejak mulai mengenal pemukiman. Mereka membersihkan hutan dan lahan rumput untuk mengusahakan tanaman bahan makanan dan bahan makanan ternak untuk dirinya dan ternaknya melalui berbagai pengalaman. Mereka mengembangkan pertanian dengan membersihkan tanah, membajaknya, menanam tanaman musiman dan memberikan unsur-unsur yang diperlukan, seperti pupuk dan air. Setelah menghasilkan kemudian dipanen. Sejak menebar benih sampai panen tanaman pertanian sangat tergantung alam, gangguan iklim, hama dan penyakit.
Agroekosistem (ekosistem pertanian) ditandai oleh komunitas yang monospesifik dengan kumpulan beberapa gulma. Ekosistem pertanian sangat peka akan kekeringan, hama/penyakit sedangkan pada ekosistem alam dengan komunitas yang kompleks dan banyak spesies mempunyai kemampuan untuk bertahan terhadap gangguan iklim dan makhluk perusak. Dalam agroekosistem, tanaman dipanen dan diambil dari lapangan untuk konsumsi manusia/ternak sehingga tanah pertanian selalu kehilangan garam-garam dan kandungan unsur-unsur antara lain N, P, K, dan lain-lain. Untuk memelihara agar keadaan produktivitas tetap tinggi kita menambah pupuk pada tanah pertanian itu. Secara fungsional agroekosistem dicirikan dengan tingginya lapis transfer energi dan nutrisi terutama di grazing food chain dengan demikian hemeostasis kecil.
Kesederhanaan dalam struktur dan fungsi agroekosistem dan pemeliharaannya untuk mendapatkan hasil yang maksimum, maka menjadikannya mudah goyah dan peka akan tekanan lingkungan seperti kekeringan, meledaknya hama dan penyakit dan sebagainya.
Peningkatan produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat akhir-akhir ini dihasilkan satu teknologi antara lain : mekanisasi, varietas baru, cara pengendalian pengganggu, pemupukan, irigasi dan perluasan tanah dengan membuka hutan dan padang rumput.
Semua aktivitas pertanian itu menyebabkan implikasi ekologi dalam ekosistem dan mempengaruhi struktur dan fungsi biosfer. Peningkatan hasil tanaman dimungkinkan melalui cara-cara genetika tanaman dan pengelolaan lingkungan dengan menyertakan peningkatan masukan materi dan energi dalam agroekosistem. Varietas baru suatu tanaman dikembangkan melalui program persilangan dan saat akan datang dapat diharapkan memperoleh varietas baru melalui rekayasa genetika yang makin baik. Varietas baru mempunyai syarat-syarat kebutuhan lingkungan dan ini penting untuk diketahui ekologinya sebelum disebarkan ke masyarakat dengan skala luas.
Penggunaan varietas unggul, pupuk buatan dan pestisida yang bertujuan meningkatkan produksi pertanian turut menjadi penyebab meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Varietas unggul yang merupakan hasil pemuliaan tanaman memang mempunyai kualitas dan produksi tinggi, tetapi seringkali ini tidak memiliki sifat-sifat ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman sehingga serangan hama dan penyakit tanaman meningkat.
Patologi tumbuhan (fitopatologi) merupakan ilmu yang mempelajari penyakit yang disebabkan interaksi antartanaman, suatu patogen dan lingkungannya. Dengan mempelajari patologi tanaman, identifikasi suatu populasi penyakit di lapangan dapat dengan mudah dilakukan, dan dapat diketahui asal dari setiap penyakit oleh suatu patogen dengan genotip tertentu.
Ada banyak hal yang dapat menyebabkan penyakit pada tanaman, yaitu biotic agen seperti fungi, bakteri, virus maupun nematoda dan abiotik gen seperti polusi air, kekurangan mineral, dan kelebihan mineral.
Selain itu, adanya penggunaan ilmu dan teknologi pertanian yang baru dan efisiensi usaha tani yang selalu berubah dan berkembang. Komoditas yang dihasilkan senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan perubahan ekonomis akibat adanya perubahan teknologi.
Pengelolaan lingkungan menimbulkan beberapa persoalan pada erosi tanah, pergantian iklim, pola drainase dan pergantian dalam komponen biotik pada ekosistem.
Sebab-sebab semakin kecilnya tanah yang dapat ditanami antara lain :
1. Pemotongan vegetasi/penggundulan sehingga tanah terbuka sehingga mudah tererosi air dan angin.
2. Mekanisasi pertanian dan penggunaan pupuk organik yang menggemburkan tanah dan membuatnya peka terhadap erosi.
3. Irigasi tanpa diimbangi dengan drainase yang mengakibatkan terbentuknya lapisan kedap air dan tanah menjadi kekurangan air. Lebih dari 300.000 ha tanah yang dapat ditanami dirugikan karena salinisasi dan kebanjiran setiap tahun.
4. Pengerjaan tanah yang tidak memenuhi syarat dapat menyebabkan erosi.
5. Urbanisasi.
Hal yang disebutkan di atas merupakan situasi yang dibuat oleh manusia dan dia sendiri sebenarnya dapat mengendalikannya/mencegahnya melalui pengelolaan agroekosistem berdasarkan prinsip-prinsip ekologi. Studi ekologi ekosistem tanah pertanian disertai dengan pengetahuan autekologi tanaman dan gulma dengan dilengkapi watak pertumbuhannya dan sifat kompetitifnya. Hubungan tanaman-gulma pada tingkat intra dan antar spesies memerlukan informasi, yang berguna untuk praktek agronomi kita.
Dalam suatu agroekosistem, komponen ekosistem menjadi lebih sederhana dan biasanya terdiri dari populasi tumbuhan pertanian yang kurang lebih seragam (monokultur). Dengan demikian, agroekosistem tidak mempunyai keanekaragaman yang tinggi, dan interaksi antar spesies menjadi rendah.
Dengan menyederhanakan ekosistem, manusia sebenarnya telah mengganggu keseimbangan alam. Keadaan ini dapat membuat semakin berkurangnya ekosistem tanaman di alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar